Jam tangan dapat dilihat dari dua perspektif berbeda. Sebagai barang konsumsi, ia berfungsi layaknya produk fesyen atau alat sehari-hari yang nilainya menurun seiring pemakaian. Namun, bagi para kolektor, jam tangan juga bisa menjadi aset hobi bukan hanya memberi kepuasan estetika, tetapi juga menyimpan potensi nilai finansial.
Dalam lima tahun terakhir, pasar jam tangan mengalami dinamika yang signifikan. Pandemi COVID-19 sempat menekan produksi dan distribusi, namun justru memicu lonjakan permintaan pada merek-merek tertentu karena keterbatasan stok. Akibatnya, harga beberapa model populer melonjak tajam di pasar sekunder. Setelah pandemi mereda, terjadi koreksi harga, terutama pada model yang sempat “overhyped”. Meski begitu, jam tangan dari merek dengan reputasi kuat tetap menunjukkan ketahanan nilai.
Stabilitas harga bukan sekadar kenaikan nilai, melainkan kemampuan sebuah jam tangan untuk mempertahankan harga jual kembali (resale value) agar tidak mengalami depresiasi drastis. Kolektor yang bijak tidak hanya mencari jam yang harganya naik, tetapi juga jam yang mampu menjaga nilainya ketika dilepas ke pasar.
Mengapa Sebagian Jam Tangan Tahan Terhadap Fluktuasi Harga?
Di pasar sekunder Indonesia, tidak semua jam tangan mengalami penurunan nilai. Beberapa model justru mampu bertahan atau bahkan mencatatkan kenaikan harga yang stabil. Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental dan psikologis pasar.
Berikut adalah pilar utama yang menentukan ketahanan nilai sebuah jam tangan:
- Brand Heritage & Sejarah Merek: Reputasi dan rekam jejak panjang sebuah merek menjadi fondasi kepercayaan kolektor.
- Kelangkaan & Volume Produksi: Model dengan produksi terbatas menciptakan hukum penawaran dan permintaan yang menjaga stabilitas harga.
- Dukungan Komunitas Lokal: Tren di forum horologi, grup kolektor, dan marketplace lokal sangat menentukan likuiditas serta kemudahan penjualan kembali.
- Keaslian (Originality): Kondisi bawaan tanpa modifikasi yang tidak resmi menjaga keaslian nilai historis dan estetika jam.
- Ketersediaan Suku Cadang: Kemudahan perawatan dan akses terhadap spare part resmi memberikan rasa aman bagi pembeli di pasar sekunder.
Jam tangan yang “tahan banting” di pasar bukanlah sekadar produk mewah, melainkan instrumen horologi yang memiliki warisan kuat, kelangkaan yang terjaga, serta dukungan ekosistem perawatan yang solid. Memahami metodologi ini adalah kunci bagi kolektor untuk memilih investasi waktu yang cerdas dan berkelanjutan.
Berikut Adalah 7 merek Jam tangan dengan Perubahan harga sekunder paling Stabil (sumber: chrono24, indeks WatchCharts, value retention Morgan Stanley):
| 1 | Rolex | Sangat kuat | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Sangat tinggi | Likuiditas sangat tinggi dan permintaan global kuat. |
| 2 | Patek Philippe | +33,59%* | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Sangat tinggi | Sangat kuat terutama Nautilus, Aquanaut, dan model langka. |
| 3 | Audemars Piguet | +64,85%* | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Tinggi | Kenaikan 5 tahun terbesar dalam analisis Chrono24, tetapi volatilitasnya juga lebih tinggi. |
| 4 | Cartier | +39,06%* | ⭐⭐⭐⭐ | Tinggi | Santos, Tank, dan beberapa model ikonik memiliki permintaan sekunder yang kuat. |
| 5 | Omega | +27,81%* | ⭐⭐⭐⭐ | Cukup tinggi | Pasar sekunder besar dan model seperti Speedmaster cukup likuid. |
| 6 | Tudor | — | ⭐⭐⭐⭐ | Cukup tinggi | Salah satu alternatif yang relatif kuat di kelas harga lebih rendah. |
| 7 | Breitling | — | ⭐⭐⭐ | Sedang | Stabil pada model tertentu, tetapi depresiasi rata-rata lebih besar dibanding Rolex/Patek/AP. |
7 Merek Jam Tangan Paling Stabil
Di posisi puncak, Rolex mempertahankan status absolutnya sebagai merek dengan likuiditas dan permintaan global yang paling konsisten. Diikuti oleh Patek Philippe yang mencatatkan pertumbuhan nilai impresif sebesar 33,59 persen. Lini legendaris seperti Nautilus dan Aquanaut tetap menjadi buruan utama kolektor kelas atas yang mencari instrumen penyimpan nilai yang aman.
Sementara itu, Audemars Piguet (AP) mencatat lonjakan terbesar dalam analisis platform Chrono24 dengan pertumbuhan mencapai 64,85 persen dalam lima tahun. Meski menawarkan apresiasi tertinggi, AP juga memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan Rolex. Di sisi lain, Cartier dan Omega menunjukkan performa yang sangat solid masing-masing dengan pertumbuhan 39,06 persen dan 27,81 persen. Koleksi seperti Cartier Santos serta Omega Speedmaster terbukti memiliki pasar sekunder yang besar dan likuid.
Bagi kolektor yang mencari opsi alternatif di kelas harga yang lebih rasional, Tudor hadir dengan performa yang cukup kuat dan stabil. Adapun Breitling berada di posisi ketujuh, di mana stabilitas harga cenderung selektif pada model-model tertentu saja, sementara rata-rata depresiasinya lebih besar dibandingkan jajaran merek di atasnya.
Secara keseluruhan, pemahaman terhadap performa historis dan posisi pasar sekunder ini sangat esensial. Pemilihan merek yang tepat tidak hanya memberikan kepuasan estetika, tetapi juga memastikan nilai investasi horologi yang tangguh dalam menghadapi dinamika pasar jangka panjang.
5 Model Jam Tangan yang Harganya Paling Naik dalam Beberapa Tahun Terakhir
Berikut adalah lima model jam tangan berdasarkan kenaikan harga:
1. Cartier Santos Carrée Ref. 2961 — +254,77%
Kenaikan harga sejak 2019: sekitar 254,77%

Posisi pertama ditempati oleh Cartier Santos Carrée ref. 2961. Kenaikannya sangat mencolok, mencapai sekitar 254,77% sejak 2019 menurut analisis Chrono24.
Referensi 2961 merupakan Santos dua warna yang memadukan stainless steel dan emas kuning. Model ini berasal dari era 1980-an hingga awal 1990-an dan menjadi salah satu contoh bagaimana jam vintage yang sebelumnya relatif terjangkau dapat berubah menjadi barang koleksi yang semakin dicari.
Daya tariknya bukan hanya berasal dari nama Cartier. Desain kotak khas Santos, kombinasi steel-gold, ukuran yang relatif kompak, serta karakter vintage membuatnya menarik bagi kolektor yang mencari jam dengan desain historis.
Varian dengan ghost dial, terutama dial burgundy, bahkan disebut memiliki permintaan yang sangat tinggi.
Saat ini, listing Santos Carrée ref. 2961 di Chrono24 menunjukkan harga yang sangat bervariasi tergantung kondisi, dial, kelengkapan, dan tingkat orisinalitas. Contohnya, beberapa unit berada di kisaran sekitar US$5.000–US$7.000, sementara varian dial tertentu dapat ditawarkan jauh lebih tinggi.
Yang membuatnya menarik: vintage Cartier dengan desain ikonik dan kelangkaan konfigurasi tertentu.
2. Patek Philippe Aquanaut Ref. 5167A — +162,97%
Kenaikan harga sejak 2019: sekitar 162,97%

Di posisi kedua terdapat Patek Philippe Aquanaut ref. 5167A, dengan kenaikan sekitar 162,97% sejak 2019.
Aquanaut 5167A menggunakan konstruksi stainless steel dan dikenal dengan desain yang lebih sporty dibandingkan banyak model Patek Philippe tradisional.
Salah satu alasan meningkatnya popularitas Aquanaut adalah karakter desainnya yang lebih kasual dan mudah dikenakan sehari-hari. Chrono24 mencatat bahwa kenaikan harga Nautilus membuat Aquanaut semakin menarik bagi kolektor yang menginginkan jam sport Patek Philippe dengan karakter serupa.
Menariknya, harga pasar sekunder model ini berada jauh di atas harga retail resminya. Chrono24 mencatat harga marketplace sekitar €50.000–€100.000, sedangkan retail yang disebut dalam analisis tersebut berada di sekitar €25.700.
Yang membuatnya menarik: kombinasi nama Patek Philippe, desain sport, produksi yang relatif terbatas, dan permintaan kolektor yang tinggi.
3. Audemars Piguet Royal Oak Ref. 15400 — +98,20%
Kenaikan harga sejak 2019: sekitar 98,20%

Audemars Piguet Royal Oak merupakan salah satu jam sport luxury paling terkenal di dunia. Salah satu referensi yang menunjukkan performa kuat adalah Royal Oak ref. 15400, dengan kenaikan sekitar 98,20% sejak 2019 berdasarkan data ChronoPulse.
Royal Oak memiliki posisi unik karena desainnya sangat mudah dikenali. Bentuk bezel oktagonal, integrated bracelet, dan desain yang berasal dari Gérald Genta menjadikannya salah satu jam yang paling berpengaruh dalam sejarah jam sport mewah.
Kenaikan harga hampir dua kali lipat dalam periode tersebut menunjukkan bagaimana permintaan terhadap Royal Oak dapat memengaruhi harga model tertentu di pasar sekunder.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua Royal Oak memiliki performa yang sama. Perbedaan reference, material, warna dial, tahun produksi, kondisi, dan kelengkapan dapat menghasilkan perbedaan harga yang cukup besar.
Yang membuatnya menarik: desain ikonik dan statusnya sebagai salah satu benchmark luxury sport watch.
4. Rolex Day-Date Ref. 18238 — +92%
Kenaikan harga sejak 2019: sekitar 92%

Rolex memang terkenal memiliki pasar sekunder yang kuat. Namun, yang menarik adalah bahwa kenaikan besar juga terjadi pada reference tertentu, salah satunya Rolex Day-Date ref. 18238.
Chrono24 mencatat kenaikan sekitar 92% sejak 2019.
Ref. 18238 merupakan Day-Date generasi neo-vintage dengan material emas kuning. Model ini menarik bagi kolektor karena berada di antara dunia jam modern dan vintage.
Karakteristik seperti konstruksi emas, desain Day-Date yang sangat khas, serta statusnya sebagai salah satu model Rolex yang paling terkenal membuat reference ini memiliki basis kolektor yang kuat.
Hal ini menunjukkan bahwa ketika membicarakan ketahanan harga Rolex, reference tertentu jauh lebih penting daripada sekadar menyebut “Rolex” secara umum.
Yang membuatnya menarik: kombinasi Rolex, emas kuning, karakter neo-vintage, dan permintaan kolektor.
5. Jaeger-LeCoultre Reverso Duoface Ref. 270.8.54 — +75,34%
Kenaikan harga sejak 2019: sekitar 75,34%

Posisi kelima ditempati Jaeger-LeCoultre Reverso Duoface ref. 270.8.54, dengan kenaikan sekitar 75,34% sejak 2019.
Reverso memiliki identitas yang sangat berbeda dari Rolex, Patek Philippe, atau Audemars Piguet. Ciri khasnya adalah case yang dapat dibalik, sebuah desain yang awalnya dibuat untuk melindungi kaca jam saat bermain polo.
Versi Duoface menambahkan daya tarik tersendiri karena memungkinkan dua tampilan dial dalam satu jam.
Kenaikan harga reference ini menunjukkan bahwa pasar kolektor tidak hanya mengejar jam sport populer. Jam dengan desain historis dan karakter teknis yang unik juga dapat mengalami peningkatan permintaan.
Yang membuatnya menarik: desain reversible yang unik, sejarah panjang, dan karakter horologi yang kuat.
Tabel 5 Model dengan Kenaikan Harga Tertinggi
| Peringkat | Merek | Model / Reference | Kenaikan sejak 2019 |
|---|---|---|---|
| 🥇 1 | Cartier | Santos Carrée Ref. 2961 | +254,77% |
| 🥈 2 | Patek Philippe | Aquanaut Ref. 5167A | +162,97% |
| 🥉 3 | Audemars Piguet | Royal Oak Ref. 15400 | +98,20% |
| 4 | Rolex | Day-Date Ref. 18238 | +92,00% |
| 5 | Jaeger-LeCoultre | Reverso Duoface Ref. 270.8.54 | +75,34% |
Sumber data kenaikan: Chrono24 ChronoPulse, berdasarkan perkembangan harga pasar sekunder sejak 2019.
Mengapa Reference Lebih Penting daripada Sekedar Merek?
Dari daftar di atas terlihat bahwa mengatakan sebuah merek “harganya naik” sebenarnya terlalu sederhana.
Contohnya, Cartier memiliki banyak model. Tetapi Santos Carrée ref. 2961 memiliki performa yang sangat berbeda dibandingkan model Cartier lainnya.
Hal yang sama berlaku pada Rolex. Tidak semua Rolex mengalami kenaikan sebesar 92%. Angka tersebut secara spesifik mengacu pada Day-Date ref. 18238.
Karena itu, bagi kolektor jam bekas, reference number adalah salah satu informasi yang sangat penting.
Reference dapat membantu menentukan:
- generasi jam;
- tahun produksi;
- jenis movement;
- material case;
- konfigurasi dial;
- bentuk case;
- jenis bracelet;
- kelangkaan;
- dan karakter pasar sekundernya.
Dalam pasar vintage, perbedaan kecil seperti jenis dial, kondisi case, bracelet asli, dan kelengkapan dokumen bahkan dapat membuat harga dua jam dengan reference sama berbeda cukup jauh.
Apakah Kenaikan Ini Berarti Jam Tersebut Merupakan Investasi?
Belum tentu.
Angka kenaikan harga pasar sekunder tidak sama dengan keuntungan bersih yang diterima seorang pemilik.
Jika seseorang membeli jam, kemudian menjualnya beberapa tahun kemudian, masih ada berbagai faktor yang harus diperhitungkan seperti:
- harga pembelian;
- biaya servis;
- biaya perawatan;
- biaya transaksi;
- spread antara harga beli dan jual;
- kondisi jam;
- kelengkapan box dan papers;
- serta biaya pengiriman atau pajak.
Selain itu, data ChronoPulse menggambarkan perkembangan harga pasar sekunder dan bukan jaminan bahwa harga tersebut akan terus meningkat di masa depan.
Apa yang Bisa Dipelajari Kolektor Jam Bekas?
Ada satu pola menarik dari kelima model tersebut.
Model yang memiliki desain kuat, sejarah jelas, dan identitas yang mudah dikenali cenderung lebih menarik bagi kolektor.
Cartier Santos Carrée memiliki desain historis yang sangat khas. Patek Philippe Aquanaut dan Audemars Piguet Royal Oak merupakan luxury sport watches yang memiliki basis penggemar besar. Rolex Day-Date 18238 memiliki karakter neo-vintage yang kuat, sedangkan Reverso Duoface menawarkan mekanisme case yang sangat khas.
Namun, kenaikan harga tidak boleh menjadi satu-satunya alasan membeli jam bekas.
Bagi kolektor, kondisi dan keaslian tetap lebih penting daripada sekadar mengejar model yang sedang naik daun. Sebuah jam dengan harga tinggi tetapi memiliki komponen aftermarket, dial yang tidak sesuai, case yang terlalu banyak dipoles, atau movement yang tidak original bisa memiliki nilai koleksi jauh lebih rendah.
Kesimpulan
Data ChronoPulse menunjukkan bahwa kenaikan harga terbesar tidak selalu ditemukan pada merek yang paling populer secara keseluruhan. Reference tertentu justru dapat menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.
Dalam periode sejak 2019, Cartier Santos Carrée ref. 2961 menjadi contoh paling ekstrem dengan kenaikan sekitar 254,77%, disusul Patek Philippe Aquanaut 5167A (+162,97%), Audemars Piguet Royal Oak 15400 (+98,20%), Rolex Day-Date 18238 (+92%), dan Jaeger-LeCoultre Reverso Duoface 270.8.54 (+75,34%).
Bagi pembeli jam bekas, data seperti ini lebih berguna jika digunakan sebagai referensi tren pasar, bukan sebagai jaminan investasi. Yang paling penting tetap memeriksa reference, kondisi, keaslian, originalitas komponen, riwayat servis, dan kelengkapan jam sebelum membeli.
Sumber: Chrono24 ChronoPulse, The Best-Performing Watches From the Top Brands on Chrono24.
